Kabar Sehat
You are here: Home / Kesehatan Anak / Frekuensi Pemberian Imunisasi Polio pada Anak

Frekuensi Pemberian Imunisasi Polio pada Anak

. Pada saat awal kelahiran, bayi memang akan mendapat kekebalan atau perlindungan alami dari ibunya. Namun, kekebalan atau perlindungan alami ini hanya bersifat sementara dan hanya berlaku terhadap suatu jenis penyakit tertentu yang memang ibu bayi memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Antibodi ini tidak akan bertahan lama, maka bayi rentan terkena berbagai penyakit. Oleh karena itu, di sinilah fungsi imunisasi untuk meneruskan kekebalan alami kepada bayi yang telah di berikan oleh ibunya. Salah satunya ialah imunisasi polio yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah anak terjangkit penyakit polio. Penyakit polio dapat menyebabkan anak menderita kelumpuhan pada kedua kakinya dan otot-otot wajahnya. Sebaiknya para orang tua memperhatikan frekuensi pemberian imunisasi polio pada anak.

frekuensi-pemberian-imunisasi-polio

Pemberian imunisasi polio bisa dilakukan dengan cara menyuntikannya atau dengan cara meneteskan vaksin polio ke dalam mulut, mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Untuk saat ini cara yang paling banyak digunakan adalah dengan cara tetes ke mulut. Selain lebih murah dan mudah, cara ini juga merupakan cara yang paling mendekati rute penyakit polio di dalam tubuh. Di Indonesia vaksin yang digunakan dalam imunisasi polio biasanya berupa vaksin sabin. Imunisasi polio digunakan untuk untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit polimielitis atau penyakit polio yang biasanya disebabkan oleh virus polio, yang terbagi menjadi tiga tipe yaitu tipe P1, P2 dan P3. Frekuensi pemberian imunisasi polio berbeda-beda tergantung jenisnya.

Polio bisa menyebabkan kematian. Penularan penyakit polio ini melalui tinja orang yang terinfeksi, percikan ludah penderita, ataupun makanan dan minuman yang dicemari. Diketahui bahwa frekuensi pemberian imunisasi polio yakni 6 kali, untuk bayi baru lahir, pada umur lebih dari 6 minggu, umur 16 minggu, umur 6 bulan, umur 18 bulan, dan terakhir pada umur 5 tahun.  Sebagian kecil anak dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot pasca imunisasi. Setelah anak mendapat imunisasi polio, maka pada tinja anak akan terdapat virus polio selama 6 minggu sejak pemberian imunisasi. Karena itu, sebaiknya orang tua tetap menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top