Cak Nun, Kurang Piknik Kurang Baca!

Menasir al Quran menggunakan akal sembrono berbahaya bagi keimanan, juga persoalan akademik. Menyebut Malam Lailatul Qadar tidak ada menyalahi logika dan tradisi ilmiah. Rasulullah saw bersabda, “man fassaral Qurana bi ra’yihi fal yatabawwa’ ma’adahu minan nar.” Barang siapa menafsir al Quran dengan akalnya maka bersiaplah tempat duduknya di neraka (At Thabari, Tafsir at Thabari, Juz 1, h. 77).

Imam at Thabari memberi catatan, jika akal digunakan secara sembrono dan hasilnya salah maka bersiaplah masuk neraka. Jika akal digunakan secara ilmiah dan hasilnya benar maka pahalanya ada di tangan Allah. Emha Ainun Najib, manusia yang “didewakan” oleh Jamaah Ma’iyah, berulang kali tergelincir lidah, sehingga publik merasa yakin ada kesengajaan di balik “kepongahan” intelektualnya itu.

Disebut kepongahan intelektual, sebab Ibnu Abbas ra., telah berkata: “innahu unzila ilas sama’id dunya fi romadon fi lailatil Qadr.” Al Quran diturunkan dari Tuhan pada Malam Lailatul Qadar ke Baitul Izzah dari Juz 1 sampai Juz 30. Dari Baitul Izzah ini, al Quran diturunkan lagi ke Nabi Muhammad saw secara berangsur angsur selama 23 tahun lamanya, tepatnya sejak Nabi berusia sekitar 40 tahun hingga wafat di usia 63 tahun. Apakah Malam Lailatul Qadar sudah selesai dengan turunnya al Quran 30 juz sekaligus ke Baitul Izzah? Tidak! Sepanjang perjalanan 23 tahun al Quran turun berangsur angsur, Malam Lailatul Qadar itu masih jadi “buruan” primadona umat muslim. Sampai sampai Ibnu Umar ra., meriwayatkan ada sekelompok sahabat Nabi bermimpi berjamaah melihat Malam Lailatul Qadar yang akan diturunkan oleh Allah swt pada 7 hari terakhir bulan Ramadhan.

Bangun tidur, para sahabat bermimpi ini langsung menemui Rasulullah saw dan meminta koreksian atas kebenaran mimpinya. Rasulullah saw bersabda: “ara ru’yakum qod tawathoat fis sab’il awakhir, fa man kana mutaharriha fal yataharraha fis sab’il awakhir.” Aku melihat mimpi kalian itu sama tentany 7 hari terakhir. Barang siapa mencari Malam Lailatul Qadar maka carilah pada 7 hari terakhir itu (Muhammad Sayyid Thanthawi, Lailatul Qadr, Maktabah Akhbar al Yaum, h. 61). Cak Nun mengatakan secara serampangan, “14 abad Islam hidup, orang masih menunggu Malam Lailatul Qadar.

Padahal, tidak ada berita: ada Malam Lailatul Qadar yang turun ke dunia ini. Yang ada, al Quran diturunkan Malam Lailatul Qadar, bukan Lailatul Qadarnya yang turun.” Pernyataan di atas membuktikan bahwa Cak Nun tidak luas bacaannya. Tidak seperti yang dibela oleh para pemujanya selama ini. Cak Nun melakukan dekonstruksi atas kemapanan bukan secara masuk akal, tetapi lebih emosional. Bukti lain Cak Nun tidak luas bacaannya, lebih emosional dari pada rasional, selain riwayat Imam at Thabari dan Muhammad Sayyid Thanthawi di atas, juga ada banyak riwayat lain. Salah satunya buku ensiklopedi Fiqih yang diterbitkan pemerintah Kuwait.

Dalam ensiklopedia itu disebutkan, Malam Lailatul Qadar itu tidak saja terjadi di masa kerasulan Nabi Muhammad saw, tetapi juga sudah berlangsung berabad abad lamanya sejak masa nabi nabi sebelumnya (Wizarah al Awqaf wa al Syuun al Islamiyah, al Mawsu'ah al Fiqhiyah, juz 35, Bab Kifayah Lailatul Qadar, Kuwait, 1995, h. 363). Penjelasan Lailatul Qadar sudah berlangsung dari masa sebelum Nabi Muhammad, itu terekam dari hadits Abu Dzar: Abu Dzar menghadap Rasulullah saw dan bertanya: "Wahai Rasulullah, ceritakanlah padaku tentang Malam Lailatul Qadar. Apakah ia akan turun setiap datang Bulan Ramadhan?"

Rasulullah saw menjawab: "Ya." Abu Dzar Bertanya lagi, "apakah Malam Lailatul Qadar itu itu hanya terjadi pada saat para Nabi masih hidup, lalu setelah para Nabi itu wafat, Malam Lailatul Qadar juga tidak terjadi? Ataukah ia akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat?" Rasulullah saw bersabda: "Tidak. Ia (Malam Lailatul Qadar) akan terus terjadi sampai Hari Kiamat." (Imam AN Nasai, al Kubra, 2/278).

Sampai di sini, menyebut Malam Lailatul Qadar sudah selesai dan tidak akan pernah terjadi lagi di masa yang akan datang, ditambah penegasan tidak ada informasi tentang itu, sungguh menyalahi sejarah. Penulis mengamati, Cak Nun memang budayawan, penyair, essais. Apapun yang dilakukannya menjadi sah karena bertujuan untuk menghibur jamaahnya yang dirundung resah dan gelisah. Dalam posisi sebagai sastrawan, Cak Nun dapat dimengerti. Ia bertujuan membawa ide alternatif yang entertainmen. Namun, dalam posisi sebagai ilmuan, Cak Nun tidak “jujur”, dengan mengatakan bahwa pandangan dirinya itu pernah ada dalam sejarah intelektual. Sebab, sebagian ulama memang sudah mengatakan, Lailatul Qadar itu sudah selesai dan tidak akan pernah ada lagi. Mirip pandangan Cak Nun. Lantas, itu pemikirannya siapa? Ibnu Hajar mengutip Imam al Mutawalli dalam kitab al Tatimmah, "pandangan Malam Lailatul Qadar tidak ada datang dari kalangan Syi'ah Rafidhah." Kemudian Ibnu Hajar juga mengutip pandangan al Fakihani dalam Syarh al ‘Umdah, "ulama yang mengatakan Malam Lailatul Qadar sudah tidak ada lagi, itu berasal dari aliran al Hanafiyah. Itu pandangan yang salah," (Wizarah al Awqaf wa al Syuun al Islamiyah, al Mawsu'ah al Fiqhiyah, juz 35, Bab Kifayah Lailatul Qadar, Kuwait, 1995, h. 363).

Sudah jelas di sini, perdebatan intelektual yang mengatakan Lailatal Qadar itu tidak ada, berasal dari golongan Syi’ah yang menyimpang (Rafidhah). Sejak zaman Sahabat pun sudah ada perdebatan itu. Abdur Razaq meriwayatkan dari Abdullah bin Yahnas, suatu hari ia bertanya pada Abu Hurairah ra., "orang orang banyak beranggapan (za'amu) bahwa Lailatul Qadar itu sudah selesai?" Abu Hurairah menjawab: "dusta orang yang bilang begitu," (Mushannaf ABdur Razaq, 4/254 255; Fathul Bari, 4/63; al Majmu', 6/448). Akhir kata, penulis ingin menegaskan, memberikan alternatif wacana yang lemah dan dha’if itu sah sah saja, tentu selama menyertakan keterangan ada banyak pendapat lain yang lebih kuat. Tanpa begitu, maka tradisi berpikir ilmiah menjadi rapuh, terjatuh pada tradisi berpikir yang emosional, sehingga berdampak pada pencitraan negatif tradisi yang sudah kuat. Atas nama kebebasan berpikir, seseorang tidak lantas boleh menawarkan kondisi yang chauvinistik. Setidaknya tidak membuat gaduh masyaralat sejak dalam opini. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010 2015.